PENTET JATENG HAMPIR GACOR HANYA 100 RIBU, MURAH SEKALI

damai-9. Sudah lumayan lama tidak nulis artikel yang berkaitan dengan isi postingan dalam situs Hobi & Si Petani (www.damai-9.com) ini. Kali ini saya mencoba menulisakan sedikit kisah pada saat di kampung halaman saat lebaran yang baru saja berlalu. 

Seorang tetangga sekaligus teman bermain saat kecil, memang sangat ramah, enak diajak berteman khususnya dengan saya alhamdulillah tidak perhitungan.


Pada satu ketika saya melihat di teras samping rumahnya ada satu kandang ukuran lumayan besar antara kandang No. 1  atau 2, terisi didalamnya burung Cendet / Pentet atau kalo dikampung saya dipanggil dengan sebutan burung Plentet. Lumayan rajin, karena kebetulan pada pagi hari dan sekaligus “dikarengake” (red: jemur).

Sambil ngobrol dan sesekali nyicipin kue lebaran yang disuguhkan, tidak lama keluar juga secangkir kopi item, mungkin si teman tahu kali kalo kami suka kopi dan kebetulan sambil megang sebatang rokok yang masing mengeluarkan asap.

Semakin asyik kami ngobrol, lama-lama si empunya menawarkan Pentent miliknya kepada saya karena mungkin secara fisik raut muka saya terlihat senang dengan burung miliknya tersebut. Dan tidak disangka menawarkannya pun jauh dibawah predisksi saya, dalam percakapan anatar saya dengan dia:

Pemilik  : “Kur, gelem mbayari plentete?”
Saya       : “Lha kon piro ?”
Pemilik  : “Usah larang-larang karo kowe wae”
Saya       : “Lha kiro-kiro kon piro, nek menawane duwite nyandak yo tak bayar, tapi nek kiro-kiro 
                   larangen yo ora wani aku.
Pemilik  : “Wis nggo kowe satus wae (100 aja)”
Saya       : “Ha !!! serius iki ???
Pemilik  : “Serius…..

Tiba tiba saya kaget  dengan harga yang ditawarkan oleh si pemilik, dengan kondisi burung yang sudah jinak, lumyan rajin, pentet jateng, kaki juga udah bawa pedang (nyisik), tentunya sangatlah murah kemana-mana jika dibandingkan dengan harga di sekitaran Jakarta dan kota-kota besar lainnya, tetapi sebenarnya di kampung pun harganya ga mungkin segitu juga, Rp 250 ribu pun dengan kondisi burung seperti yang saya sebutkan tadi tentulah masih sangat murah.

Setelah terjadi transaksi, langsung saya bayar cash uang sebesar Rp 100 ribu untuk seekor burung Pentent/Cendet/Plentet yang sudah rajin, banyak isian, jinak banget, bisa dimainin dan kemudian saya bawa pulang dan untuk kemudian keesokan harinya saya boyong ke Jakarta, dan alahamdulillah sampai saat ini kondisi burung yang saya bawa dari kampung saya tersebut dengan hagra hanya Rp 100 ribu tetap sehat, semakin moncer dan sekaligus sebagai hiburan saat sedang berada di rumah.

ARTIKEL TERKAIT LAINNYA: